Vision Building
Deskripsi blog
2/25/20263 min read
Vision Building Day: Menyatukan Arah dan Masa Depan Organisasi
Jika Focus Day berbicara tentang struktur dan ritme kerja, maka Vision Building Day berbicara tentang arah.
Di sinilah leadership team berhenti sejenak dari operasional harian dan menjawab tiga pertanyaan mendasar:
Siapa kita sebagai organisasi?
Ke mana kita ingin pergi?
Bagaimana cara kita sampai ke sana?
Vision tidak selalu langsung rapi dalam satu kalimat yang indah. Prosesnya bisa terasa berantakan di awal. Namun justru dari diskusi, perdebatan, dan penyederhanaan itulah muncul kejelasan. Dan ketika vision sudah jelas, ia akan dipakai setiap hari—di meeting, dalam pengambilan keputusan, dan saat menentukan apakah sebuah inisiatif harus dilanjutkan atau dihentikan.
Mengawali dengan Fondasi: Review Tools
Sebelum menyusun arah, leadership team menyamakan bahasa terlebih dahulu. Tools yang sudah dipelajari di Focus Day—seperti Accountability Chart, Rocks, Scorecard, Meeting Pulse, IDS, dan 5 Leadership Abilities—kini menjadi kerangka berpikir.
Lima kemampuan kepemimpinan menjadi pengingat utama:
Simplify: potong kompleksitas.
Delegate and Elevate: fokus pada kekuatan inti dan percayakan sisanya pada orang yang tepat.
Predict: tentukan arah jangka pendek dan panjang.
Systemize: dokumentasikan proses agar konsisten.
Structure: bangun struktur organisasi yang jelas.
Dengan fondasi ini, tim siap masuk ke inti Vision Building.
Core Values: Mendefinisikan “Right Person”
Vision dimulai dari identitas. Dan identitas organisasi dimulai dari Core Values.
Core Values bukan slogan. Ia adalah alat untuk mendefinisikan siapa yang cocok dan siapa yang tidak cocok berada di organisasi ini.
Proses menemukannya tidak dimulai dari teori, melainkan dari manusia. Setiap peserta diminta menyebutkan orang yang sangat ingin diajak bekerja sama—orang yang jika diajak membangun sesuatu bersama, hasilnya bisa luar biasa. Dari situ, karakter-karakter yang muncul dikumpulkan.
Karakter tersebut kemudian disederhanakan melalui proses keep, kill, combine hingga tersisa tiga sampai lima nilai inti. Semakin sedikit, semakin kuat.
Nilai inilah yang akan digunakan untuk menyaring dan membangun tim melalui alat yang disebut People Analyzer. Setiap orang dinilai berdasarkan kesesuaian terhadap Core Values. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menciptakan kejelasan.
Core Values kemudian dirumuskan dalam bentuk “The Speech”—narasi yang bisa digunakan dalam rekrutmen, lengkap dengan cerita, analogi, contoh, sejarah, bahkan anti-value. Dengan begitu, budaya organisasi tidak hanya disepakati, tetapi juga dikomunikasikan secara konsisten.
Core Focus: Menemukan Sweet Spot Organisasi
Setelah tahu siapa kita, pertanyaan berikutnya adalah: apa fokus utama kita?
Core Focus terdiri dari dua bagian:
Purpose/Cause/Passion (mengapa kita ada)
Niche (apa yang benar-benar kita jago lakukan)
Purpose adalah “why” organisasi. Ia datang dari pemimpin. Ia membuat orang bergerak bukan hanya karena gaji, tetapi karena tujuan.
Niche adalah sweet spot—titik di mana organisasi paling kuat dan paling relevan.
Begitu Core Focus jelas, semua keputusan harus melewati filter ini. Tidak semua peluang layak diambil. Bahkan produk yang menghasilkan uang pun bisa dihentikan jika tidak selaras dengan Core Focus.
Core Values dan Core Focus bersama-sama menjadi jiwa organisasi.
10-Year Target: Mendefinisikan Ambisi Besar
Selanjutnya adalah menentukan 10-Year Target.
Ini adalah angka atau gambaran besar tentang apa yang benar-benar ingin dicapai dalam sepuluh tahun ke depan. Bisa berbentuk target kuantitatif seperti revenue atau jumlah pelanggan, atau kualitatif seperti dampak sosial.
Yang penting, target ini SMART dan cukup besar untuk menginspirasi.
10-Year Target menjadi bintang utara yang memandu semua rencana di bawahnya.
Marketing Strategy dan 3 Uniques
Setelah tahu siapa kita dan ke mana kita pergi, kini waktunya menentukan bagaimana kita sampai ke sana.
Marketing Strategy menjawab pertanyaan tersebut melalui:
Target Market (siapa yang kita layani: demografis, geografis, psikografis)
3 Uniques (tiga pesan utama yang membedakan kita)
Pesan ini harus sederhana dan konsisten. Pelanggan perlu mendengarnya berulang kali hingga melekat.
3-Year Picture: Membayangkan Masa Depan
Kemudian visi mulai dibuat konkret melalui 3-Year Picture.
Tim menentukan tanggal tiga tahun ke depan, lalu menjawab:
Berapa revenue dan profit?
Seperti apa organisasi ini terlihat?
Bagaimana budaya, tim, sistem, dan posisi pasar kita?
Setiap gambaran dituliskan, lalu disederhanakan menjadi tiga sampai tujuh poin utama.
Pada akhirnya, seluruh tim diajak membayangkan masa depan tersebut secara detail. Bukan sekadar angka, tetapi kondisi nyata yang bisa dirasakan.
1-Year Plan: Menurunkan Visi ke Tindakan
Dari 3-Year Picture, visi diturunkan menjadi 1-Year Plan.
Tim menentukan target satu tahun ke depan dan memilih tiga sampai tujuh prioritas utama yang harus tercapai agar gambaran tiga tahun bisa terwujud.
Prinsipnya tetap sama: less is more. Fokus lebih penting daripada daftar panjang.
Issues List dan IDS
Sepanjang proses, setiap isu yang muncul diparkir di Issues List.
Isu kemudian dikategorikan:
Isu mingguan untuk dibahas di Level 10 Meeting
Isu 90 hari untuk dijadikan Rocks
Isu jangka panjang dimasukkan ke dalam V/TO
Dengan waktu yang tersisa, tim menjalankan IDS:
Identify akar masalah
Discuss secara terbuka
Solve sampai tuntas
Vision tidak boleh terhambat oleh isu yang tidak diselesaikan.
Penutup: Vision Harus Hidup
Vision Building Day bukan sekadar menyusun dokumen. Vision akan hidup jika digunakan.
Ia harus dipakai:
Dalam meeting
Dalam pengambilan keputusan
Dalam menentukan prioritas
Dalam memilih orang
Ketika seluruh leadership team benar-benar berada di halaman yang sama, organisasi mulai bergerak dengan arah yang jelas.
Dan dari situlah traction yang sesungguhnya dimulai.