Focus Day

Deskripsi blog

Muhammad Dwi Akbar

2/25/20263 min read

a man riding a skateboard down the side of a ramp
a man riding a skateboard down the side of a ramp
Focus Day: Hari untuk Menguatkan Fondasi Implementasi EOS

Setelah 90-Minute Meeting memperkenalkan konsep besar EOS, langkah berikutnya adalah Focus Day. Inilah hari di mana teori mulai dihidupkan. Focus Day bukan sekadar workshop satu hari, melainkan momen penting untuk memperkuat fondasi organisasi sebelum benar-benar menjalankan EOS secara penuh.

Tujuan utama Focus Day ada dua:
pertama, menguasai tools utama dalam EOS (Mastery EOS Tools),
kedua, mulai membangun kekuatan pada Scorecard sebagai denyut nadi bisnis.

Sejak awal sesi, fasilitator menetapkan ekspektasi yang jelas. Hari itu bukan untuk diskusi permukaan. Semua peserta diminta hadir dengan sikap terbuka, jujur, dan berorientasi pada pertumbuhan. Tidak ada ego. Tidak ada politik internal. Semua yang mengganjal di kepala harus dikeluarkan agar organisasi bisa bergerak maju tanpa beban tersembunyi.

Check-In: Melihat Realitas Saat Ini

Agenda pertama adalah Check-in. Di sini, setiap peserta merefleksikan kondisi departemennya masing-masing.

Mereka membahas:

  • Apa yang belum berjalan baik?

  • Apa kesenjangan terbesar yang terlihat?

  • Apa metrik utama yang menjadi tanggung jawabnya?

Kemudian dilakukan penilaian skala 1–10 terhadap:

  • Efektivitas meeting saat ini

  • Keselarasan rencana kerja dengan tujuan perusahaan

  • Tingkat accountability dalam organisasi

Tujuannya bukan untuk mengkritik, melainkan untuk menyadari posisi awal. Karena tanpa kejujuran terhadap kondisi saat ini, tidak mungkin ada perbaikan yang nyata.

Hitting the Ceiling: Mengakui Batas dan Siap Berubah

Agenda berikutnya adalah konsep penting dalam pertumbuhan bisnis: Hitting the Ceiling.

“Hitting the ceiling” adalah momen ketika perusahaan merasa mentok. Pertumbuhan melambat, kompleksitas meningkat, beban terasa berat, dan cara lama tidak lagi efektif. Ini adalah fase yang tidak bisa dihindari oleh organisasi yang sedang tumbuh.

Pada titik ini, hanya ada tiga pilihan: menerima kondisi tersebut, meninggalkannya, atau mengubahnya. Jika menerima atau meninggalkan bukan pilihan, maka perubahan menjadi satu-satunya jalan.

Namun perubahan menuntut keberanian untuk “letting go the vine” — melepaskan cara lama, pola pikir lama, dan kebiasaan lama.

EOS mengajarkan bahwa untuk menembus batas ini, pemimpin harus menguasai lima kemampuan kepemimpinan:

  1. Simplify – Menyederhanakan kompleksitas.

  2. Delegate and Elevate – Mendelegasikan dan fokus pada kekuatan inti.

  3. Predict – Mampu merencanakan jangka pendek dan panjang secara disiplin.

  4. Systemize – Mendokumentasikan dan memastikan proses diikuti semua orang.

  5. Structure – Menyusun organisasi dengan struktur yang tepat, bukan berdasarkan ego.

Hanya dengan menguasai lima kemampuan ini, organisasi bisa menembus batas pertumbuhannya.

Accountability Chart: Kejelasan Struktur dan Tanggung Jawab

Setelah memahami pentingnya perubahan, sesi berlanjut ke Accountability Chart.

Berbeda dengan struktur organisasi biasa, Accountability Chart berfokus pada kejelasan fungsi dan tanggung jawab. Setiap peran hanya boleh memiliki satu orang yang benar-benar accountable. Jika dua orang memegang tanggung jawab yang sama, pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab.

Organisasi pada dasarnya memiliki tiga fungsi utama:

  • Sales & Marketing

  • Operations

  • Finance

Di atasnya terdapat peran Integrator yang mengharmoniskan seluruh fungsi. Dalam beberapa organisasi juga ada peran Visionary sebagai penggerak ide dan arah jangka panjang.

Prinsip utamanya adalah Right People, Right Seats. Setiap posisi harus diisi oleh orang yang:

  • Memahami pekerjaannya (Get it),

  • Menginginkannya (Want it),

  • Mampu menjalankannya dengan baik (Capacity).

Struktur harus dirancang untuk 6–12 bulan ke depan, bukan berdasarkan kondisi masa lalu atau kenyamanan pribadi.

Rocks: Fokus pada Prioritas Utama

Agenda berikutnya adalah Rocks, yaitu 3–7 prioritas terpenting yang harus diselesaikan dalam 90 hari ke depan.

Konsep ini dijelaskan melalui analogi toples kaca. Jika Anda mengisi toples dengan pasir dan air terlebih dahulu, batu besar tidak akan muat. Namun jika Anda memasukkan batu besar terlebih dahulu, semua hal lain masih bisa mengikuti.

Batu besar itulah Rocks.
Kerikil adalah tugas menengah.
Pasir adalah aktivitas kecil.
Air adalah gangguan.

Fokus pada Rocks memastikan organisasi bekerja pada hal yang benar-benar penting, bukan sekadar sibuk.

Meeting Pulse: Ritme yang Menjaga Organisasi Tetap Hidup

Focus Day juga memperkenalkan Meeting Pulse. Organisasi yang sehat memiliki detak jantung yang konsisten.

Ada tiga ritme utama:

  • Annual (2 hari) untuk menyusun visi tahunan

  • Quarterly (1 hari) untuk evaluasi dan menetapkan Rocks

  • Weekly (90 menit) untuk menjaga eksekusi tetap on track

Meeting harus dilakukan pada hari dan waktu yang sama, dengan agenda yang sama, mulai dan selesai tepat waktu. Ritme inilah yang menjaga sinkronisasi seluruh tim.

Scorecard: Mengelola dengan Angka, Bukan Perasaan

Terakhir adalah Scorecard. Jika tidak diukur, tidak akan terselesaikan.

Scorecard yang baik berisi 5–15 angka mingguan yang menjadi leading indicators kesehatan bisnis. Setiap metrik memiliki satu orang yang bertanggung jawab. Targetnya jelas. Jika tidak tercapai, harus diturunkan untuk diselesaikan.

Scorecard memberi ketenangan, karena pemimpin tidak lagi menebak-nebak kondisi bisnis. Semua terlihat melalui data.

Penutup: Fondasi Menuju 90-Day World

Di akhir Focus Day, tim merangkum pembelajaran utama, menyepakati langkah berikutnya, dan berkomitmen untuk menjalankan sistem ini secara konsisten.

Focus Day bukan akhir. Ia adalah titik balik.

Hari ini organisasi mulai meninggalkan pola lama dan memasuki disiplin baru:

  • Struktur yang jelas

  • Prioritas yang tajam

  • Meeting yang produktif

  • Angka yang terukur

  • Tanggung jawab yang nyata

Dan dari sinilah perjalanan menuju 90-Day World benar-benar dimulai.